-Catatan Cinta-

Posted on Oktober 11th, 2010 in Selarik Rasa by rubijah84

Catatan ini seharusnya kutulis jauh hari, sekitar empat bulan lalu.

Ketika pertama kali, di sore yang indah, ia ucapkan selarik kalimat.

Kalimat yang membuatku menjadi halal baginya, dan ia pun menjadi halal bagiku.

Aku mencintainya. Sangat.

Alloh tahu itu…

Kini aku memiliki seseorang yang aku dapat berlari padanya.

Berlari untuk membagi tawaku, menunjukkan bahagiaku, mencurahkan resahku, menceritakan takutku, dan menumpahkan tangisku.

Aku telah memilikinya, lelaki itu, suamiku.

Bersamanya, tak ada yang mampu kusembunyikan.

Karena sedalam apapun kupendam, ia akan tahu.

Ia tahu dari sikapku, pun sorot mataku.

Pedih perih, pilu sembilu, ia tahu.

Tawa ceria, tangis bahagia, ia juga tahu.

Suamiku…

Aku mencintainya. Sangat.

Setiap airmata yang mengalir dari pipiku, ia usap dengan mata yang aku tak pernah sanggup membalas tatapnya.

Setiap tawaku yang meledak-ledak, ia balas dengan senyum yang menyiratkan perasaan yang sama.

Ia menuntun langkahku, menunjukkan jalan agar terhindar dari terjal.

Ia menggenggam jemariku, berjalan di depanku, namun tak pernah tergesa.

Ia menungguku.

Slalu begitu. Slalu begitu.

Dan Alloh pun tahu.

Ia, suamiku.

Aku mencintainya. Sangat.

Ya Robb…

Aku bersyukur pada-Mu… untuk seseorang yang Engkau hadirkan di hidupku.

Aku bersyukur pada-Mu… untuk seseorang yang hingga detik ini slalu menyayangiku.

Aku bersyukur pada-Mu… untuk seseorang yang Engkau perintahkan padaku untuk mematuhinya.

Aku bersyukur pada-Mu… untuk seseorang yang membuatku mendekat pada-Mu.

Aku bersyukur pada-Mu… untuk seseorang yang ada disampingku kini, nanti, dan kelak Engkau pertemukan kembali.

Ia, lelakiku. Suamiku.

Aku mencintainya. Sangat.

Ya Robb…

Jagalah ia …

Jagalah ia…

Slalu.

-CB.05.10.2010.11.48.Tues-

*Untuk Hangga Aji Sayekti, ILYSM. ^^v

Tualat!

Posted on Maret 31st, 2010 in Pelangi by rubijah84

TUALAT!

Frens, ada cerita lucu nih! Datang dari salah satu anak ajaib. Pagi tadi, sekitar pukul 10.00 WIB. Seorang anak TK kelas B, namanya Adin- yang tempo hari saya bilang si jago lari itu tuh- datang ke kantor saya. Tiba-tiba ia berkata begini,

“Mbak Nonik, kemarin pas liburan di rumah Eyangku, kepalaku benjol gede banget!”
Saya mengalihkan perhatian pada Adin. Kugeser keyboard komputer di meja, agar leluasa meladeninya.

“Sampek berdarah lho, Mbak…” Adin menunjukkan pada saya dahinya yang agak memar. Masih terlihat hijau kebiruan. Tapi tidak terlalu benjol.

“Waduh, kenapa tuh, Mas Adin? Jatuh ya?” saya bertanya sok-sok serius. Saya sibakkan rambutnya, dan melihat dahi Adin seperti dokter mendiagnosa pasiennya. Hmmm… memang bekas benjol nih, batin saya.
“Bukan. Aku tualat.”
“….”

“Dua kali tualatnya, Mbak!”
Tualat? Apa maksudnya anak ini? Apa hubungannya dahi benjolnya dengan tualat? Awalnya saya pikir ‘tualat’ yang ia maksud adalah ‘toilet’. Toilet memang dibaca ‘toalat’ kan, frens? Atau saya yang salah ya? *Hehe…

“Tualat itu apa, Mas Adin?”
“Bukan TUALAT, Mbak… K.U.A.L.A.T!” kata Adin tegas.
“Ohhh… KUALAATTT… hehehe… glek.“ Saya salah dengar. Kali ini Mbak Nonik yang budeg deh, Diinn… Hhhh….. (_ _!)

Saya meralat pertanyaan.
“Kualat kenapa, Mas Adin?
“Kualat sama Papahku. Dua kali, Mbak…!” katanya serius sekali.

Matanya menatap layar komputerku sembari mengelus-elus dahinya yang bekas benjol.
“Woww… dua kali?! Kok bisaaa…?” Saya bertanya lagi, dan melotot penasaran karena makin antusias mendengar ceritanya.

“Yang pertama pas aku mau main bola. Papahku bilang ngga boleh main di jalan. Tapi aku main aja, trus kakiku berdarah. Ini!” jelasnya seraya mengangkat kaki kanan dan memperlihatkan padaku ibu jari kakinya. Tapi tak ada bekas apa-apa. Mungkin sudah sembuh.

“Trus, yang kedua kapan?”
“Yang nomer dua, pas aku loncat-loncat di kasurnya Eyangku. Kata Papahku ngga boleh. Tapi aku loncat-loncat aja, trus KEJEDOT TEMBOK! Sampe berdarah banyaaaak… banget!” mimik muka Adin makin serius.

Aku tidak melihat bekas luka sobek yang bisa menyebabkan pendarahan di dahi Adin. Kurasa ia agak berlebihan bercerita. Namun aku berusaha menangkap esensi dari kalimat-kalimatnya. Hmmm… ya, ya, ya… anak ini sedang menyadari bahwa ia telah memetik buah dari apa yang ia tanam. Menanam pohon ‘NGEYEL’, hasilnya buah ‘TUALAT’ eh ‘KUALAT’!

“Wah, Mas Adin kasian sekali ya… Tapi udah ngga sakit kan benjolnya?”
Saya mencoba melempar pertanyaan se-simpatik mungkin, agar ia merasakan aura perhatian yang saya pancarkan. *Halah-halah. Lebay!

“Udah enggak lagi, Mbak. Tapi sekarang aku kepedhesen nih…” ujar Adin sambil mengusap-usap mulut dengan punggung tangannya.
“Heh?! Kepedhesen? Kenapa lagi, Mas? Kualat lagi sama Papah ya?”
Hihihihi… saya geli dengan pertanyaan yang saya ajukan barusan.

“Bukan. Sneknya pedhes banget, Mbak! Huuuuhhhh….”
“Emang sneknya apa, Mas?” tanyaku agak-agak ngeces.
Kayaknya kok enak banget sih…

“AREM-AREM, Mbaakk…!” jawab Adin sambil lari ke kelasnya.

Haduuuhhh… dasar anak-anak!

***

Kadang kita memang harus belajar dari anak-anak ya, frens…
Dan tulisan ini hanya sedikit dari sekian banyak cerita yang berhasil ‘dicipratkan’ anak-anak ajaib itu dalam kehidupan saya.
Juga sebagai tulisan ‘warming up’ setelah sekian lama ‘angrem’ menulis.
Yuk, bapak-ibu, mas-mbak dan teman-teman semua… mohon berkomentar.
Boleh dikritik pake cabe rawit deehhh… hosh… hosh… hosh…

-CB. 15 januari 2010-

Mandor Masjid

Posted on Maret 31st, 2010 in Dunia Sastro by rubijah84

¤Serpih 5: Mandor Masjid.

Ini hanyalah sekelumit kenangan lamaku tentang dia yang bernama Rubijah. Kenangan yang hingga saat ini membuatku bangga sekaligus malu. Ah, mungkin rasa malu itu hanya seujung jariku bila dibandingkan dengan rasa banggaku pada sosoknya.

Kenangan ini tercipta ketika dahulu, anak-anak sebayaku masih duduk di bangku SD.
Waktu itu, masjid lama- yang dibangun susah payah oleh kakekku- masih aktif digunakan. Masjid baru yang saat ini dipakai pun masih berujud tanah pekarangan. Tak tahu mengapa, kurasakan ada perbedaan pada masjid lama dengan masjid yang sekarang dipakai. Masjid lama- yang sempat dipinjamkan untuk didirikan panti asuhan- jama’ahnya lebih banyak daripada masjid baru yang memiliki 2 lantai.
Dahulu di masjid lama, ketika Ramadhan tiba, rasa-rasanya bangunan tuanya hendak rubuh karena saking banyaknya jama’ah yang datang untuk buka bersama atau shalat berjama’ah. Apalagi ketika datang waktu Jum’at, serambi penuh sebelum khotib membaca khotbah. Bahkan pernah suatu kali, ruang tamu rumah Mbah Sastro disulap menjadi tempat shalat bagi mereka yang kehabisan shaf di serambi masjid. Benar-benar jama’ah yang menggembirakan. Banyak dan rutin.
Terlepas dari kenyataan bahwa masjid lama memang lebih kecil dibandingkan masjid baru sehingga mungkin masjid lama tampak memiliki jama’ah yang lebih banyak. Dan tentu saja tak ada relasi antara masjid baru atau lama dengan jumlah jama’ah, yang ada hanyalah pola kehidupan beragama saat ini dengan manusianya. Eh, ngga tau ah…

Di masjid lama itulah, sebentuk bangga menyeruak, diiringi sedikit malu. Memori otakku telah menyimpan kenangan itu dalam bingkai yang terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. Dan dialah Rubijah- Mbah Sastro- yang menjadi pemain utama dari sebuah kisah.

Berawal darimereka, teman-teman sebayaku, yang gemar sekali berolahraga didalam masjid.
Mereka berlari-larian kesana kemari, bermain petak umpet, saling berkejaran dan tak henti-hentinya membuat kegaduhan. Sementara aku, hanya duduk menyaksikan. Karena sejak berangkat dari rumah aku sudah mendapat peringatan keras untuk menjadi ‘anak anteng’.

Dan kisah pun dimulai.
Sore hari, di bulan Ramadhan, ba’da shalat Ashar.
Teman-teman hebatku berlari berkejaran memainkan sebuah permainan paling seru di dunia: Cendhak Ndodok!
Umm… aku tak tahu bagaimana membahasa-Indonesiakan dua kata itu. Cendhak Ndodok.
Anak-anak hebat pun semakin asyik berlarian mengitari setiap sudut di dalam masjid. Aku sebagai penonton rasanya ingin sekali bergabung dengan mereka dan menggaduhkan dunia!
Namun menjadi suporter pun tak kalah menyenangkan. Bermodalkan tepukan tangan, aku dan beberapa teman anteng-ku menyoraki mereka para pemain Cendhak Ndodok terhebat.
Suasana di masjid benar-benar kacau, gaduh, tapi seru bukan main. Sebuah pertunjukan ala anak-anak bengal yang rajin mengaji sedang berlangsung. Dan aku, termasuk ambil bagian dalam kebengalan itu, meski hanya bertepuk tangan.

Lalu, tanpa prediksi sama sekali, Mbah Sastro muncul dari pintu sebelah kanan!
Bersenjatakan sapu lantai di tangan kanannya, dan dengan mimik wajah bak pemburu jitu, ia berteriak penuh pesona:
“HEEHHH! MEJID KI DINGGO SHALAT! ORA DINGGO PEPLAYON! BOCAH DO RA NGGENAH KABEH! ISO DO LÈRÈN ORA?!” *Heehhh… masjid itu tempat sholat! Bukan tempat lari-larian! Bocah kurang ajar semua! Bisa berhenti ngga?!

Seketika itu juga, para sprinter masjid diam mematung. Para supporter, termasuk aku, duduk melongo. Aku dan beberapa temanku lalu berpura-pura menjadi anak-anak anteng kembali.
Hahaha… kasihan sekali mereka yang berada di posisi pemain liga Cendhak Ndodok itu. Wajah mereka seperti usai melihat hantu!

Dan permainan pun berakhir tanpa skor!
Sementara aku, di dalam masjid, harus menghadapi jutaan komentar teman-temanku tentang nenekku, Mbah Sastro.
Komentar-komentar itu berujung pada satu kesimpulan paling penting sepanjang sejarah kanak-kanakku:
MBAH SASTRO GALAK.

-PWL.11.Agt.2009.Tues-
*Sampai saat ini, kata ‘Galak’ masih betah bercokol di belakang namanya. Bahkan anak-anak kecil tetangga saya sering mengurungkan niatnya main bola di halaman rumah Mbah Sastro ketika beliau sedang leyeh-leyeh di terasnya. Takut bolanya disita. Hahaha…

Bocah Kurang Ajar!

Posted on Maret 31st, 2010 in Dunia Sastro by rubijah84

:note sebagai tanda cinta, dan ungkapan kekaguman pada ia, yang bernama Rubijah.

¤Serpih 1: Bocah Kurang Ajar!

Siapa sangka, garis takdir membawa perempuan yang kini berusia hampir 90 tahun itu ke sebuah desa berjuluk Pringwulung. Setelah dipersunting seorang kepala desa kala itu, Rubijah lebih dikenal dengan nama sang suami, Ibu Sastrowihardjo. Hingga saat ini pun,tak banyak orang tahu nama Rubijah, yang kini justru populer dengan panggilan Mbah Sastro, kadang dengan tambahan ‘galak’ di belakang namanya. Biasanya kata ‘galak’ dilontarkan oleh anak-anak yang sering terkena kopi pahit Mbah Sastro lantaran kenakalan mereka. Dasar bocah!

Bersama suami dan kesepuluh anaknya- kini hanya tersisa 5 orang- Mbah Sastro putri berjuang mempertahankan hidup melawan berbagai situasi jaman saat itu. Jaman pendudukan Jepang, Belanda, dan jaman-jaman setelahnya. Dan waktu pun berlalu hingga tahun 1987- kalau tidak salah- ia ditinggalkan sang suami untuk selamanya.

Aku ingat sekali, pernah suatu ketika saat Lebaran tiba, kira-kira 2 tahun lalu dan seluruh keluarga berkumpul di rumahnya- rumah yang menurutku memiliki lantai yang terlalu luas untuk dipel- Mbah Sastro bercerita tentang kelucuan yang ia alami di jaman Belanda, jarang-jarang kami- anak cucu dan cicitnya- mendengar cerita lucu yang berkaitan dengan penjajahan. Beginilah Mbah Sastro menuturkan kisah yang ia ceritakan lewat satu-satunya bahasa yang ia kuasai, bahasa Jawa:

“Mbiyen Mbah Kakung ki rak dadi mangsane londo… dioyak-oyak arep dipateni cah…
Lha bengi-bengi, londone teko neng ngomah, podo nggowo bedhil kae, nggoleki Mbah Kakung…
Banjur Mbahmu mlayu, ndelik neng watu gedhe kulon omah kae…
Weee… lha kok Pakdhemu (berkata sambil nunjuk ke arah salah satu anaknya yang ikut menyimak cerita) malah bengak-bengok,

‘Bapak ndeyik nen mbuyi atu edhe ae yo!!’, karo nuding-nuding kulon omah!”
“…gandheng londo ki rak ra mudeng boso Jowo tur omongane Pakdhemu yo celat nganti seprene, londone yo podo meneng wae…
Aku ki nganti ketir-ketir mikir Mbahmu kakung, nek kecekel njuk kepiyee caahh…” begitu serius bercerita sembari mengelus dada.

“…Sakwise londo-londo kuwi mau podo lungo, lha kuwi Pakdhemu kuwi ,isih urip nganti yahmene, tak gebleki bokonge nganti kèkèjèr!!
Bocah kurang ajar, arep mateni bapakne dewe!” tak henti-hentinya Mbah Sastro menunjuk ke arah Pakdheku yang duduk di sampingku.

Gelak tawa pun meledak menutup cerita Mbah Sastro. Sementara itu, Pak Manto, yang berperan sebagai ‘bocah kurang ajar’ hanya meringis tak berdaya, ditertawakan seluruh anak cucu dan cicit dari ibunya sendiri.

-PWL.05.Agt.09-

-Ojo Grusa Grusu-

Posted on Maret 31st, 2010 in Dunia Sastro by rubijah84

¤Serpih 3: Ojo Grusa-grusu… (Jangan terburu-buru)

Kali ini, perempuan tuaku- Mbah Sastro-bicara jodoh.

Hampir setiap sore, menjelang adzan Maghrib, aku dan Mbah Sastro duduk-duduk di teras. Ada saja yang bisa dijadikan bahan obrolan.Tapi hampir sepanjang obrolan itu, aku lebih banyak diam mendengarkan. Terkadang tawaku meledak saat perempuan tua itu menceritakan sesuatu yang kuanggap lucu. Ekspresi datarnya ketika bercerita justru menjadi bumbu kelucuan itu sendiri. Namun terkadang aku hanya diam menatap wajah tuanya- tanpa sepengetahuannya tentu- untuk menelaah makna dari apa yang ia katakan.

Pernah di suatu sore yang cerah, kami berdua membicarakan kakakku yang berencana menikah. Terlontar satu kalimat dari bibirnya-yang hingga saat ini masih kuingat jelas- kalimat sederhana namun bagiku penuh makna.

“… golek sisihan kuwi ojo grusa-grusu… (mencari pendamping itu jangan terburu-buru)” katanya padaku.

Grusa-grusu,dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti ‘terburu-buru, ceroboh dan tidak sabaran’.

Umm… masuk akal juga, batinku.

“… cah enom kuwi kudu gedhe prihatine, sholate sing mempèng, nek perlu poso… opo meneh kowe ki bocah wadon, kudu luwih ngati-ati…
Yen bengi nek iso tangi, tahajud, nyenyuwun marang gusti Alloh… ben dilancarke anggonmu golek sisihan urip…(anak muda itu harus bisa prihatin, sholat yang rajin, kalau perlu puasa… apalagi kamu anak perempuan, harus lebih berhati-hati.. Kalau malam bangunlah, tahajud, memohon pada Alloh… agar dilancarkan usahamu menemukan pendamping hidup)” sebuah petuah ala perempuan tua bernama Rubiyah.

“…milih sisihan urip kuwi nomer siji kudu Islam, sholate apik. Dadi ora mung waton seneng banjur rabi Nok… Oraa… (memlihi pendamping hidup itu yang nomor satu adalah Islam, sholatnya baik… jadi bukan asal suka terus kawin, Nak… bukaann…)” tuturnya kemudian.

Kudengarkan kata-katanya, kuresapi… dan ya, perkataan perempuan itu benar adanya.
Mencari pendamping hidup memang tidak boleh ‘grusa-grusu’. Ada banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan- terlepas dari kesan ‘pemilih’- dalam menentukan pilihan.

Agama yang baik. Itulah yang selalu diingatkannya padaku. Pilihlah ia yang ‘baik’ sholatnya. Karena hakikat pendamping hidup- suami- adalah sebagai imam. Tak hanya bagi istri ia berperan menjadi imam, namun juga bagi anak-anaknya kelak.

Rubijah, yang dulu dinikahi suaminya- Sastrowihardjo- lewat perjodohan antar orang tua, beranggapan bahwa suami adalah seseorang yang harus ditaati. Kemauan sang suami adalah perintah bagi sang istri. Selama itu baik. Apa yang dirasakan suami, istri pun merasakan. Ketika sang suami sakit, maka tak hanya suami saja yang sakit, tapi sang istri pasti merasakannya juga.

Kembali ke bahasan menemukan jodoh, perempuan tuaku menutup sore itu dengan selarik kalimat yang membuatku menarik nafas, bukan karena lega, melainkan membuatku berpikir agak lebih lama. Ujarnya padaku:

“…wong lanang kuwi menang milih, wong wadon menang gèdhèk (nolak)… (Lelaki itu menang memilih, sedang perempuan menang menolak…)”.

-PWL.07Agt.09-

Senam Pagi

Posted on Maret 25th, 2010 in Pelangi by rubijah84

Anak-anak. Selalu memberikan kesejukan dengan caranya masing-masing. Mereka tertawa, itu kesejukan, mereka marah, rasanya masih sejuk juga. Bahkan ketika mereka menangis, sejuuukkk… masih juga terasa. Saat saya menulis catatan ini, di jam istirahat siang saya, ada Fadi, yang bertubuh gendut lucu seperti boneka beruang di samping saya. Membawa mainan helikopternya, berkata : “Mbak Noniikkk… aku mau foto-fotoan…” Hahaha… lucu banget kamu, Nak!

Hari Jum’at, senam di pagi hari. Hmmm… beberapa kali ikut senam bersama mereka, tiada satu kali pun tanpa tertawa. Selalu terpingkal-pingkal menyaksikan anak-anak ajaib ini berulah. Sebelum musik pengiring senam diputar, barisan sudah tertata ber-shaf. Putra dan putri dengan shaf yang berbeda. Rapi. Begitu musik dinyalakan, mulailah keributan! Seperti aba-aba bagi mereka yang memang sejak awal kurang tertarik dengan kegiatan pagi ini, musik yang bersemangat pun membangkitkan semangat mereka untuk segera berlari semau mereka sendiri.

Firlie - yang mendapati ibu gurunya sedang menjadi intruktur senam- segera bergegas menuju keran air, lalu mengambil gayung, dan byuurr… ia menyiram kepalanya sendiri hingga basah kuyup seluruh tubuhnya. Dan seperti tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tanpa pengawasan ibu gurunya, Firlie bercibang-cibung ria dengan sahabatnya, AIR. Alhasil, seragamnya segera berganti dengan setelan bawaannya dari rumah. Biasanya, ada dua atau tiga setel baju ganti di dalam tasnya. Mama-nya benar-benar faham kelebihan putranya ini, tak bisa lepas dari air. Baru jam sembilan pagi, dan Firlie sudah dua kali ganti baju! Ckckckckck…

Lain lagi dengan Fadi… yang di awal saya katakan lucu seperti boneka beruang, dia bercita-cita- terobsesi mungkin- menjadi polisi, tentara dan atau pemadam kebakaran. Mainan bawaannya tak jauh-jauh dari peralatan tempur. Pistol mainan, mobil-mobilan, helikopter, dan sebangsanya selalu saja ada di dalam ranselnya. Ketika senam dimulai, Fadi justru asyik duduk diatas jembatan emas- permainan titian dari besi setinggi kepala orang dewasa- dengan senapan ala tentaranya. Kutanya : “Mas Fadi, kok ngga ikut senam? Nanti ngga dapet snek lhoh… Ayok, senam sama Mbak Nonik!” Lalu, apa jawabnya? “Ngga ah, senam ngga asikkk! Enakan main ini…!” katanya sembari meneropongku dengan senapan mainannya. Mungkin kalau di proyeksikan seperti di film-film, dia sudah menembakku, DORR! Matilah aku di tangan tentara Fadi. Glek.

Ini dia, si jago nangis, Dinda kecil. Ia dipanggil Dinda kecil karena ada dua Dinda di TK ini, satu Dinda kecil dan satu lagi tentu Dinda besar. Dinda kecil, yang kalau sudah berniat nangis- seperti Jaiko adik Ja Yen dalam serial Doraemon- tangisannya bisa memekakkan telinga. Musik senam pagi pun mengiringi tangisnya “Huaaaaaaaaa….. ngga mau, ngga mau… bapak ditutul!” (baca: bapak disusul, artinya: pengen pulang.). Kalau sudah begitu, ibu gurunya akan membawanya ke kantorku, meminjam telepon lalu berpura-pura menelpon si bapak. “Ini, mbak Dinda ngomong sendiri sama Bapak ya..”. Kata Dinda di telepon, “ Bapaakkk… dik Dinda dijempuuuut… jam tiga ya, Paakk… huhuhuhuhu….!”. Saya tak tahan menahan tawa, ya kalau gitu, masih ada enam jam lagi dong, Mbak Dinda… ngapain nangis sekarang coba? Hahahaha…

Lalu ada lagi, namanya Adin, si jago lari… kegiatan rutinnya setiap hari adalah: Berulah, lalu lari. Benar-benar ahli. Adaaa… saja yang diperbuatnya, akibatnya, adaaa… saja ibu guru yang mati-matian mengejarnya, lalu membawanya ke tempat semula. Namanya Adin.

Lain lagi Nanda, hobi lari juga. Namun tak seberapa dibandingkan Adin. Nanda hanya berlari ketika memang permainannya mengharuskan ia untuk berlari. Seperti suatu ketika bermain vampir-vampiran, Nanda adalah mangsa si vampir, jadi ia harus lari menghindari si vampir. Badannya yang agak lebih besar dibanding teman-temannya, kadang membuatnya harus terkena imbas ‘pelariannya’, nabrak kanan kiri! Beruntung bila yang tak sengaja tertabrak badannnya tidak jatuh, lalu menangis sambil teriak “Bu Guruuu…. Aku ditabrak Nanda!!! Huhuhuuhuhu… sakiiittt!!!”. Toh kalau pun itu terjadi, Nanda pun akan berhenti berlari, dengan muka tanpa dosa, ia mendekat, “Aku ngga sengaja Bu Guru… minta maaf ya…” katanya kemudian sambil mengulurkan tangannya pada teman yang tanpa sengaja ia tabrak. Hahhh… Nanda, berbadan besar, namun hatinya jauh lebih besar.

Dan masih banyak anak-anak lainnya. Dengan kelucuan dan kesejukan yang mereka ciptakan. Senam pagi di hari Jum’at, memang tak pernah tidak berantakan. Namun entah mengapa, senam itu slalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, paling tidak untuk saya sendiri, seseorang yang makin jauh masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak.

Anak-anak.

Tak pernah kumengerti bagaimana dunia mereka.

Tak pernahkah ada lara menyapa?

Karena kulihat mereka hanya tertawa.

Irsyad yang selalu bersemangat.

Yuda yang lebih tampan dari kebanyakan.

Samsa dengan jutaan celotehnya.

Zidane dengan segudang cerita tentang mamanya.

Hani yang lucu, lebih mirip keponakanku.

Ima yang selalu ‘Baik’ ketika ditanya ‘Apa kabar?’

Adi, si bungsu yang disapa Kak Adi.

Adin yang bibirnya baru saja digigit serangga, bengkak, dan masih bisa tertawa lalu lari.

Zenith yang hanya tertarik pada makanan.

Fadi yang ingin jadi tentara.

Alam yang absen karena demam.

Althof yang tak pernah akur dengan Dafit.

Zakia yang lebih mirip anak laki-laki.

Raka yang selalu mengalah.

Dan Squall di sudut kelas, asyik sendiri dengan mobil-mobilannya.

Mereka, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mereka, anak-anak kita.

Mereka slalu mewarnai dunia.

Ya, mereka BISA!

Mereka, anak-anak kita..

sebuah keajaiban yang nampak begitu nyata.

*cerita saya di kontes menulis Aku Bisa!

-Jogjakarta. 23.Okt.2009. Hari Jumat, hari senam pagi-

*Ketika menjadi ibu guru TK ternyata lebih menyenangkan. Jadi ingat guru-guruku TK dahulu, semoga keberkahan slalu terlimpah untuk mereka… aminnn. (Bu Guru, aku sebandel apa ya dulu?)

… dan menjadi tua.

Posted on Maret 25th, 2010 in Selarik Rasa by rubijah84

pagi ini, aku melihat betapa lelap dia tertidur.
seorang wanita renta, nenekku.
lelap sekali, tenang..
lalu kupikirkan, agak lama
betapa tidak nyamannya menjadi tua.
rambut memutih, kulit mengeriput, tangan yg slalu bergetar, penglihatan pun pudar.
kupikirkan lagi, lama.
betapa tersiksanya menjadi tua,
tak bebas kemana-mana, tak dapat berbuat apa-apa.
lalu kulihat lagi wanita renta yg sedang terlelap itu.
hidupnya yg tampak bahagia,
dikelilingi senyuman anak cucunya.
dan kulihat lagi dia, kuingat-ingat cerita perjalanan hidupnya..
penuh liku memang, tapi dia bahagia.
“Dia masih memberiku kesempatan kedua”,katanya.
lalu, aku makin keras berpikir.
yah, menjadi tua adalah fitrah manusia..
tak apalah rambut menjadi putih sejumput,
tak apalah kulit menjadi sisik,
tak apalah mata menjadi tak berguna,

tak apa jugalah seluruh tubuh menjadi getar-getar renta.
karena sungguh, Dia tlah memberi kesempatan kedua,
ketika kita menjadi tua.

-CB.30Juni09.tuesdayinblue

-

-Brownies Katresnan-

Posted on Maret 22nd, 2010 in Dunia Sastro by rubijah84

¤Serpih 4: Brownies Katresnan.

“..cinta ibu sepanjang jalan,cinta anak sepanjang galah..”
Sepertinya ungkapan itu memang benar untuk menggambarkan cinta kasih seorang ibu. Diibaratkan seperti sebuah jalan, tanpa ujung,tanpa akhir,dan begitulah cinta seorang ibu pada anak-anaknya. Tanpa melihat adanya jalan buntu tentu. Kalaupun ada seorang ibu yang tega menyakiti buah hatinya, kurasa ada yang salah dalam diri dan kehidupan ibu itu. Entahlah.

Catatanku kali ini hanya akan bercerita tentang seorang ibu dengan cintanya yang sepanjang jalan. Ya,si ibu itu adalah Rubiyah. Mbah Sastro putri. Sebenarnya, cerita ini terinspirasi dari peristiwa sederhana yang siapa saja mungkin mengalaminya. Namun bagiku, peristiwa sederhana itulah yang telah memberiku pelajaran berharga tentang cinta, yang kemudian menjadikannya bagian dari rentetan ilmu yang kelak kubutuhkan jika aku menjadi seorang ibu. Pada saatnya nanti.

Baiklah, biar kumulai kisah kali ini dengan tiga kata ‘ajaib’: PADA SUATU HARI.

Pada suatu hari,Mbah Sastro menerima paket,kiriman dari Soegiyono- putranya -yang tinggal di Jakarta. Sebuah dus putih bertalikan rafia, terselip selembar pesan: ‘Hanya untuk Embah putri’. Dus itu kami buka bersama, berisikan sekotak brownies buatan sang menantu yang berdarah Belanda. Hanna Hendrika Anderson- menantu Mbah Sastro -adalah satu-satunya bagian keluarga yang mahir membuat kue, brownies salah satunya. Dan saat itu, hasil karyanya sudah ada di depanku, seolah melambai-lambaikan tangannya menggodaku sambil berkata: ‘Ayo,santaplah aku!’.

“Jupukno lading” perintah Mbah Sastro membuyarkan imajinasi brownies bertanganku.
Segera aku menuju dapur untuk mengambil pisau, dan bergegas menyerahkannya pada perempuan tua itu, agar segera dapat kunikmati sepotong brownies yang melambai-lambaikan tangan minta secepatnya dilahap. Mmm… lezatnya!

“Irisen dadi ènèm…” lagi-lagi meluncur kalimat perintah dari Mbah Sastro.
Kuturuti sajalah apa maunya.

“Saiki, sing limo disisihke… lha sing siji irisen cilik-cilik dinggo awak dewe…”katanya lagi.

W-H-A-T??!!!

Ukuran browniesnya saja sudah kecil, diiris jadi enam bagian, lima bagian disisihkan, satu bagian dipotong lagi… Lhaahh… keciiil amat Mbah..!!

“Lhoh, sing limo ngge sinten Mbah?” tanyaku penasaran.
“Dinggo Karno, Manto, Prapto, Gyanto, karo Siti…” jawabnya pelan sambil memasukkan satu per satu bagian dari lima bagian brownies yang kusisihkan ke dalam plastik kecil.

“Tapi, pesene Budhe Hanna, ‘kagem Mbah Sastro tok’…” kataku mencoba mengingatkan tentang selembar pesan yang diselipkan didalam dus brownies.

“Kowe kuwi durung tau ngrasakne dadi wong tuo Nok… wong tuo kuwi nek mangan ngelingi anak. Opo sing tak pangan, anak-anakku yo kudu mangan. Sithik-o ora popo… kuwi sing jenenge KATRESNAN…” ujar perempuan tua itu sambil mengikat plastik-plastik berisi bagian-bagian brownies

Sambil kulahap potongan kecil browniesku, dalam hati kubenarkan juga apa kata Mbah Sastro. Brownies katresnan. Sepotong tanda cinta kasih dari seorang ibu pada anak-anaknya. Ahh… perempuan tua ini selalu saja menyihirku dengan kalimat-kalimat sederhana yang penuh makna.

Mbah Sastro… seorang ibu dengan cinta sepanjang jalan…
We love you too, Mbah… with or without the brownies…!!

-PWL.090809.Sun-
*kangen brownies itu.

-Saat Langkah Kita Tak Seringan Dahulu-

Posted on Maret 22nd, 2010 in Benang-benang Kusut by rubijah84

*Semua yang ada di catatan blog ini sudah saya publish di catatan fesbuk. Jadi judulnya, catatan lamaaa… hehe. Spesial untuk yang pengen baca… ^^

(Sebuah catatan kecil,
dari seseorang yang kalian beri amanah)

Kakimu dan kakiku melangkah,
Kadang berkejaran dengan mushaf di tangan.
Kerudungmu merah jambu, sementara aku lebih suka biru,
Sepanjang jalan kita berceloteh tentang hidup, tak ada habisnya hingga bibir mengucap ta’awudz.
Dan kita mengaji bersama.

Kau begitu lancarnya membaca,
aku malu… karena masih terbata.
Lalu kau ajarkan padaku, ‘itu huruf qolqolah!’
Dan aku harus mengulangnya hingga sempuna.
Allahummar hamna bil Qur’an…
Senandung Qur’an pun kita lagukan,
semoga menjadi penerang kelak menghadap Illahi.
Sebuah harapan suci indah menyeruak di hati.

Kerongkongan pun terasa kering ketika kita menutup mushaf,
senyum merekah saat jamuan telah rapi terhidang.
Teh manis, pisang goreng, roti bakar, gorengan Pak Paiman, ceriiping singkong, kadang juga ikan lele disajikan.
Bismillah…
Lalu dengan lahap kita hajar diiringi bacaan kajian usai tadarusan,
Kenyang.
Menjabat tangan, mengucap salam dan saling berlalu pergi.
Dalam hati dan ucapan, berjanji pekan depan akan bertemu lagi.

Catatan lewat fesbuk ini, bisa dibilang jurus terakhir yang saya miliki. Karena di benak saya saat ini, kekalutan demi kekalutan menyelinap. Apa yang bisa saya perbuat bila saya sendiri berada dalam situasi yang membuat saya tak mampu lagi memikirkan cara. Ya, sebuah cara. Sebuah cara yang diharapkan menjadi jalan keluar bagi kita semua.

KEPUTRIAN.
Apa yang terbersit di benak teman-teman semua ketika saya menyebut kata itu. Menyenangkan? Sebuah keakraban? Atau justru membosankan? Dan tak seperti dulu? Keputrian. Tak bisa dihindari, ia memang tak lagi seperti dulu, dan tak akan pernah bisa menjadi seperti dulu saya kira. Tapi apakah kita akan terus seperti ini? Membiarkannya menghapusi sendiri jejak-jejak indah yang sedari dulu kita coba torehkan? Keputrian memang tak seperti dulu, namun bukankah itu hanya melulu tentang ‘penghuni’nya yang silih berganti? Mengapa tak coba kita sadari, kita bisa mewujudkan kembali keputrian yang lebih baik dari dulu. Membangun suasananya! Itu yang terpenting. Bukan hendak mendramatisir, tetapi saya membayangkan, betapa indahnya dulu ketika mengaji menjadi kegiatan yang dinanti. Tak kurang dari 25 pasang mata tunduk membaca Al-Quran. Mbak Umi yang selalu datang bersama Mbak Julai dan Nuri, Mbak Aya yang jauh-jauh datang dari Demangan, Mbak Essy dengan tas tempat Al-Quran buatannya sendiri, Mbak Archie yang berpasangan dengan Mbak Rini, Mophy yang slalu nempel dengan Roeny, lalu Mbak Indri yang nampak anggun dengan sepeda mininya, Mbak Imah yang kerap membetulkan tajwid kita, Mbak Imun dengan buku absennya, Mbak Heni, Mbak Asih dan Mbak Murni yang slalu ampir-ampiran, Mbak Liya dengan tas polkadotnya, Mbak Nina yang tomboy, Mbak Yulput yang slalu duduk disamping saya, Mbak Erna dan segala macam usulannya, dan yang paling saya ingat, Mbak Wahyu yang selalu datang dengan wajah terengah-engah dan keringat mengalir di dahinya, kemudian Mbak Elin akan segera mengipasinya sambil berkata : “Ya ampun, Yuk… kamu tuh abis ngejar apa?” . Dan masih banyak lagi yang lainnya, dengan kenangan-kenangan yang berhasil mereka ciptakan di memori saya. Hhhh… saya merindukan saat-saat seperti itu teman…. Sangat rindu. Tapi bukankah waktu tak akan pernah kembali? Dan memang sudah selayaknya masa seperti itu berganti?

Itu masa lalu, teman-teman… boleh kita kenang, namun jangan sampai mematikan langkah kita kemudian. Mereka yang telah memiliki kehidupan lain (baca: menikah) harusnya menjadi penyemangat kita, bukan menjadikan kita diam di tempat tanpa berbuat apa-apa. Kita tak bisa mengembalikan mereka, namun kita bisa mengembalikan suasananya. Ingatkah kau teman, saat kita pergi bersama ke Pantai Depok, hampir 5 tahun silam? Bukankah kita berjanji akan membuat Keputrian slalu jaya?

Sudah dua kali pertemuan setelah Lebaran. Sepuluh orang saja tak berhasil kita kumpulkan. Jujur, saya takut. Pada amanah yang kalian berikan dahulu. Sore itu, di masjid kita tercinta, teman-teman memilih saya untuk menakhodai perkumpulan ini. Ust. Nash pun menaruh harapan pada sosok ketua yang baru. Ada sejumput rasa yakin ketika kalian katakan, “Tenang… kami pasti akan membantumu…”. Tapi sore itu, rasa ragu justru memenangkan pergulatan di hati saya. Saya meragukan diri saya sendiri. Dan benarlah, ketika dua minggu yang lalu saya sadari, saya tidak bisa berbuat lebih banyak lagi. Saya seperti tak mampu lagi.

Setiap selasa pagi, saya mengirim sms ke teman-teman semua dimana jadual kita mengaji. Hampir semua terkirim, kecuali nomor-nomor yang memang sudah tidak aktif lagi. Selang beberapa menit, ada beberapa yang membalas. “Afwan, aku nanti ada keperluan, jadi ngga bisa datang”, “Maaf, nanti malam aku nge-les”, “Sorry jeng, aku masuk malam.”, “Duh, aku kuliah je…”, “Ijin Bu… capek.” Dan sebagian lagi tidak membalas. Tahukah teman-teman, ketika saya menerima sms seperti itu, saya menghela nafas panjang, sedih.

Saya sangat memaklumi kesibukan teman-teman semua, saya menghargai setiap usaha teman-teman mencari rizki, saya pun paham ketika setiap jadual mengaji selalu bentrok dengan agenda teman-teman. Saya sungguh mengerti. Tapi tak bisakah kita sedikit merenungkan, untuk apa sebenarnya kita mengaji, apa arti 1,5 jam dalam sepekan itu? Saya pernah melontarkan pertanyaan itu pada seorang dari teman kita, lalu jawabnya “Ngaji kan bisa dirumah.”

Jlep. Jawaban itu seperti godam menghantam kepala saya. Jawabannya 100% benar, ngaji bisa dirumah. Namun teman-teman semua, apakah kita menyadari, kita makin kehilangan silaturahmi ketika ‘mengaji bisa dirumah’ menjadi satu-satunya alasan untuk tak hadir di tadarus keputrian? Sia A sekolah dimana, si B kelas berapa, si C sedang punya masalah apa, apakah kita bisa tahu itu bila kita tidak bertemu dengan mereka? Tadarus Keputrian Malam Rabu, sebenarnya lebih dari sebuah ajang mengaji. Lebih dari sekedar mengaji, temanku…

Kemudian saya membayangkan, setiap malam Rabu, bilakah Mbak Umi dan Faiz berangkat bersama, Mbak Indri dan Aisyah digandengannya, Mbak Liya dengan Faruq di gendongannya, Mbak Imun dan Diba berkejaran menuju tempat tadarus, Mbak Nina mengajak Hafidz, Mbak Imah dan Kaafi di pangkuannya, Mbak Yuli batok dan bayinya, Mbak Marta dengan Deva, Mbak Aya dan Naila-nya, dan Mbak Lita dengan Hikari-nya, Mbak Essy dan Mbak Julai datang diantar suaminya, lalu ditambah teman-teman yang beranjak dewasa, Windy, Lala, Yana, Nita, Norma, Yuni, Kunti, Nisa, Titi, Ika, Iis, Nita 2, Ika S, Tri, Via, Nuri, Lia, Nana, Endah, Fatimah, Fita, Butet, Rosa- dan saya yakin masih banyak yang lain- bukankah akan sangat INDAH jadinya? Bersama belajar mengaji dan mengakrabi. Keputrian akan benar-benar menyalakan apinya. Jaya!

Tapi semua bayangan itu pudar, ketika setiap sms ajakan mengaji yang saya kirim ke teman-teman dibalas KETIDAKHADIRAN di malam harinya…. Benarkah langkah itu tak lagi seringan dahulu?

-PWL. 27. Okt. 09. Tues-
*Saya sudah mengusulkan pergantian Buket, semoga bisa membawa warna berbeda di Keputrian, beside that, I think Im too old to do all that things… hiks.
Untuk yang rajin berangkat tadarus, ayo tetaplah bertahan, teman! Untuk yang belum sempat berangkat, kami akan slalu menunggu kalian… ^_^
(sebenarnya catatan ini hanya sekedar kegelisahan saya terhadap eksistensi Keputrian, dan tak ada maksud apa-apa selain sebuah ajakan bersama… Ngaji Yuk!)

-Sadako and The Pail-

Posted on Maret 22nd, 2010 in Benang-benang Kusut by rubijah84

Assalamu’alaykum, Bapak-Ibu, temans semua…

Apa kabar?
Awalnya saya ingin melanjutkan menulis cerita yang sudah lama nian saya anggurin.
Tapi entah kenapa, saya terpikir untuk menuliskan catatan kecil ini segera setelah seorang sahabat saya di Bima sana mengirimi saya catatan motivasi yang berkaitan dengan ember. Tapi catatan saya tidak akan membahas ember kayak sahabat saya itu, melainkan ‘ember’ saya sendiri. Hihihii…

EMBER? Yup, ember. Yuk, silakan baca… Sebelumnya, bilamana tidak berkenan saya tag, remove saja ya Bapak-Ibu, temans semua… ^^v

Saat itu tahun 2007. Satu tahun sesudah saya menyelesaikan kuliah Perencanaan dan Monitoring Pembangunan di sebuah perguruan tinggi negeri di kota saya. Meski sudah satu tahun lulus, saya masih sering ‘berkeliaran’ ke kampus. Lebih sering untuk mendapatkan info lowongan kerja terbaru. Namun kadang saya ke kampus hanya untuk melepas rindu, dan bertemu dengan teman-teman saya yang belum lulus. Dan yang paling sering, saya ke kampus hanya sekedar jalan-jalan, ngeceng ke kampus fakultas lain lalu mencicipi kantin mereka. Xixixixi…

Suatu ketika, saya dan seorang sahabat karib berkelana ke kampus Fakultas Ilmu Budaya. Awalnya karena penasaran dengan mahasiswa-mahasiswi kampus itu. Anak Ilmu Budaya kan terkenal nyentrik-nyentrik. Aneh-aneh dandanannya. Tanpa sengaja, saya membaca sebuah pengumuman super duper menarik!
- Writing and Speech Contest di UMY.-
Writing?! Wuah… kayaknya asik nih. Ssttt… saya termasuk pemburu lomba-lomba menulis sejak SMA, temans… Tapi jarang menang! Hiks. But, syiaape teeeuuu… kali ini saya menang! Ahaiii… Segera saya catat waktu dan persyaratannya. Hmmm… pendaftaran bisa langsung pas hari H rupanya. Oke deehhh…

Diantar seorang sahabat, saya berkeliling kampus UMY di ring road barat. Agak lama juga mencari ruang tempat lomba yang dimaksud. Namun akhirnya ketemu juga.
Ada banyak mahasiswa mengenakan jas almamater. Duuhhh… brondong semua nih. Saya menghampiri mahasiswi berjilbab pink yang duduk manis di belakang meja bertulis panitia.
“Mbak, mau ikutan lomba menulis dimana ya?”
“Oh, bisa sama saya, Mbak… Mau berapa orang. Kelompok atau perorangan?”
“Emm… sendiri aja kok, Mbak. Perorangan”
“Ok. Bayarnya 10 ribu ya, Mbak… atas nama?”
“Nonik, Mbak… Oh, ya… lombanya gimana si sebenarnya, Mbak? Saya kok kurang jelas pengumumannya…”
“Nanti ada TM-nya kok… ntar Mbak masuk aja ke ruang itu ya… Ntar dijelasin pas TM itu. Ok?”
“Oh, gitu…”

Setelah saya mendapatkan kuitansi dari mahasiswi berjilbab pink itu, saya segera masuk ke ruang yang dimaksud. Untuk mengikuti Technical Meeting dari panitia.
“Jadi, nanti peserta mengambil lintingan undian ini dua kali, di dalam lintingan itu ada kata kunci yang harus peserta jadikan sebuah cerita, dalam bahasa Inggris. Setelah itu, dikumpulkan. Setelah jam istirahat, peserta harus mempresentasikan ceritanya di depan dewan juri. Ada pertanyaan?” jelas panitia panjang kali lebar.

APAAA??
PRESENTASI di depan Dewan Juri?! Ngga salah nih? Duuuhhh… saya kan lama banget ngga main presentasi-presentasian. Terakhir presentasi dulu semester 5. Itu pun majunya barengan sekompi! Kalo mesti sendiri begini, BISA ENCOK LUTUT SAYA, Maaasss! Hadduuuuhhh…

Tapi, yang namanya takdir harus dihadapi kan, temans?
Saya akan berjuang! YESS! *semangat kayak anggota multi level marketing.

Saya mengambil jatah undian. Dua kali. Di dalam lintingan pertama muncul kata ‘Jepang’ dan lintingan kedua ‘1970’.

Jepang dan 1970.
Alamaakkk… cerita apa yang bisa muncul hanya dengan dua kata itu coba? Pake bahasa Inggris pula! Saya berasa salah ikut lomba nih….

Saat itu, peserta Writing hanya 3 orang. Setelah kenalan sebentar, ternyata dua peserta adalah mahasiswa semester 3 dan 5. Keduanya anak Sastra Inggris pula! Satu dari kampus yang sama dengan saya, satunya anak kampus UMY. Edddiiiaaannn… saya harus bertarung melawan 2 jagoan Bahasa Inggris! Saya bisa MENCELAT nih kayak adegan siluman Kambing ditabok toya sakti-nya Sun Go Kong. Towwbbbiiaaatt… semangat saya surut lagi. Hiks.

Tapiii… lagi-lagi saya ingat, TAKDIR HARUS DIHADAPI KAN, TEMANS?
Lagipula, saya sudah bayar 10 ribu. Pantang pulang sebelum padam, eh… sebelum menang! Lha mbayar jeeee…!!

Jepang dan 1970. saya berpkir keras, ceritanya apa ya kira-kira? Tiba-tiba, wangsit Sadako muncul di otak saya. Ya! Saya akan menulis tentang Sadako! Saat itu, film Sadako- The Ring lagi ngetrend, temans. Kalo belum nonton pelem entu, bisa dicap kuper dah! Untuunnggg… saya udah nonton. Jadi ngga dicap kuper. Xixixi… Dan yang paling penting, dari pelem entu saya bisa terinspirasi di saat-saat mepet kayak begini. Lalu, cerita untuk lomba ini saya beri judul: SADAKO AND THE PAIL! Waww… busyet keren banget kan! Haha…

Kayak maling dikejar anjing, saya ngaciiirrrr aja bikin cerita Sadako and The Pail ini. Bermodalkan kamus tua Bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris milik Wojowasito, saya berhasil membuat cerita sepanjang dua halaman folio. Hedeeuuuhhh… lumayan.
Mata indah ini saya biarkan lirik sana lirik sini, dan dua peserta lain udah pada dua halaman lebih tuh! Ah, biarin aja, mereka kan anak Sastra, wajaarrr… Lha saya, anak Ekonomi je, MANTAN lagi! Yo lebih dari wajar kalo ngga lebih dari dua halaman. *membela diri.

Yup, siap dikumpul!

Saatnya istirahat. Saya bersyukur memiliki sahabat yang bersedia menemani saya mengikuti lomba kali ini. Jadi agak tenang berada di kandang orang lain, apalagi UMY. Gudangnya mahasiwa tajir. *Katanyaaaa sssiiiihhhhh…

Makasih, sahabatku… Walau saya tau motivasi terselubung kamu. Kamu pengen dapet jatah 30% dari hadiah kalo saya menang kan? Ra sopan to kuwi?! Huahahaha…
Tapi, its okelah… kami kan sahabat! Uyeeaaahhh…^^v

Setelah makan kenyang di kantin UMY, saya harus segera menuju ruang sidang untuk presentasi cerita. Inilah saat-saat menegangkan itu, temans…

Dalam ruang dingin ber-AC, dengan tatanan panggung yang spektakuler. *Lebay. Dan puluhan pasang mata menatap tajam kearah panggung, saya duduk menanti nama saya dipanggil maju. Ada tiga orang juri duduk berjajar di depan panggung. Ada ahli grammar, tutor bahasa Inggris, dan seorang dosen UMY. Lengkap sudah deritaku!

“Saudari Nonik T. Ningsih dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, judul cerita Sadako and The Pail! Silakan maju!”

Panitia memanggil nama saya. Giliran pertama pula! Saya sempat bengong sebentar, temans. Untung saya ditampar sahabat saya untuk segera maju. Kalo engga, saya anteng aja ngga mau ngaku itu nama saya. Abis, DENGKUL SAYA GGOOYYYAANNNGGG, temans!!
“Mbul, jenengmu kuwi lho! Cepetan maju!” kata sahabat saya sambil mendorong-dorong saya kayak orang ngga mau kenal saya ajah!
“Mbuuullll… ndredeeeggg kiiiii…. Ayyooo baalllliii waeee… Aku ora sangguuuppp… Suwweeerrr! Mripate akeehhh banggeeetttt!!”

Akhirnya, setelah dipanggil untuk yang kedua kali, saya terpaksa maju meladeni.
Takdir harus dihadapi kan, temans?

“Ehemm… uhuk, uhuk. Assalamu’alaykum. Good afternoon everybody. First of all, let me introduce myself. My name is Nonik, I came from Gadjah Mada University, Economic Faculty, Majoring in Monitoring and Development. Okay, I will tell you about my story. The title is Sadako and the Pail. Do you know PAIL, guys?”

Saya berhenti sesaat, menanti jawaban audiens di depan mata saya. Kok pada diem ya? Ini pada budeg apa ya? Saya kan nanya kalian, penontoooonnn!!
“All right, I think you don’t know. Mmm… the PAIL is EMBER in Bahasa Indonesia. You know EMBER right? We use it to carry water. Yes, water. My story will tell us about Sadako and her pail. Once upon a time, Sadako is a young lady named Hanna. Hanna in Bahasa Indonesia means flowers. And Hanna has a sumur…” *Duh, sumur bahasa Inggrise opo to yak??!

Raut wajah penonton di depan saya terlihat makin ruwet Hanya sahabat saya yang terlihat ngikik-ngikik tak jelas. Ada juga beberapa yang mesem-mesem, entah paham dengan cerita saya atau malah bingung ngga jelas juga tuh.
“One day, Hanna goes to her sumur to get some water. Using her pail she took it alone. Then suddenly, a bad man come ‘merebut’ her pail. He push Hanna into fall to her ‘sumur’. Then he took her pail and her water. Hanna died in her own ‘sumur’. A week later, Hanna become a ghost named SADAKO and the Pail. Why she called with that name? Because every haunts the people, Hanna always said, ‘WHERE IS MY PAIL? WHERE IS MY PAIL?’. And Sadako, it’s a legendary ghost name in Japan. That’s it. Thanks for listening my story. Wassalamu’alaykum…”

Tepuk dan sorak sorai penggemar, eh penonton mengisi ruang sidang. Saya turun dengan senyum penuh kemenangan, temans! Bukan menang karena hadiah… orang lombanya kelar aja belum. Melainkan MENANG MELAWAN KETAKUTAN SAYA SENDIRI! Itu yang lebih penting! Ngga apa-apa malu sebentar, tapi tetaplah kuasai keadaan! Rasanya, PLOOOONNNNGGGG!!
Saya pun duduk kembali di kursi saya dengan sisa-sisa dengkul yang masih goyang. Tapi saya puas. saya telah mengalahkan ketakutan itu. Grafik NYALI saya meningkat seratus persen! Saya tak peduli dewan juri atau mahasiswa-mahasiswi yang ada di ruang sidang mengerti atau tidak sama sekali dengan cerita saya. Itu tak lagi penting sekarang. Hahaha…
“Mbul, you’re rocckk!” kata sahabat saya.
“Ya iyalah, Sun Go Kong! Eh, Noniiiikkk…!” *nyengir bangga.
Usai presentasi peserta ke tiga, kami pun pulang dengan perasaan riang. Menunggu seminggu lagi hasilnya diumumkan di acara Nonton Bola Bareng di Monumen Serangan Satoe Maret.

Oke, temans! Semoga cerita ini menjadi inspirasi kita untuk tetap semangat maju ke depan! Melawan ketakutan dan menguasai panggung keadaan! Uuyyyeeaahhh…^^v

TAK PEDULI PULUHAN MATA MENATAP SAYA TAJAM. DARI ATAS PANGGUNG, DENGAN LANTANG SAYA TERIAKKAN,
“INI JUDUL SAYA, SADAKO AND THE PAIL!”

*Lupa saya aplot kapan di note fesbuk.

Halaman Berikutnya »