Assalamu’alaykum, Bapak-Ibu, temans semua…
Apa kabar?
Awalnya saya ingin melanjutkan menulis cerita yang sudah lama nian saya anggurin.
Tapi entah kenapa, saya terpikir untuk menuliskan catatan kecil ini segera setelah seorang sahabat saya di Bima sana mengirimi saya catatan motivasi yang berkaitan dengan ember. Tapi catatan saya tidak akan membahas ember kayak sahabat saya itu, melainkan ‘ember’ saya sendiri. Hihihii…
EMBER? Yup, ember. Yuk, silakan baca… Sebelumnya, bilamana tidak berkenan saya tag, remove saja ya Bapak-Ibu, temans semua… ^^v
Saat itu tahun 2007. Satu tahun sesudah saya menyelesaikan kuliah Perencanaan dan Monitoring Pembangunan di sebuah perguruan tinggi negeri di kota saya. Meski sudah satu tahun lulus, saya masih sering ‘berkeliaran’ ke kampus. Lebih sering untuk mendapatkan info lowongan kerja terbaru. Namun kadang saya ke kampus hanya untuk melepas rindu, dan bertemu dengan teman-teman saya yang belum lulus. Dan yang paling sering, saya ke kampus hanya sekedar jalan-jalan, ngeceng ke kampus fakultas lain lalu mencicipi kantin mereka. Xixixixi…
Suatu ketika, saya dan seorang sahabat karib berkelana ke kampus Fakultas Ilmu Budaya. Awalnya karena penasaran dengan mahasiswa-mahasiswi kampus itu. Anak Ilmu Budaya kan terkenal nyentrik-nyentrik. Aneh-aneh dandanannya. Tanpa sengaja, saya membaca sebuah pengumuman super duper menarik!
- Writing and Speech Contest di UMY.-
Writing?! Wuah… kayaknya asik nih. Ssttt… saya termasuk pemburu lomba-lomba menulis sejak SMA, temans… Tapi jarang menang! Hiks. But, syiaape teeeuuu… kali ini saya menang! Ahaiii… Segera saya catat waktu dan persyaratannya. Hmmm… pendaftaran bisa langsung pas hari H rupanya. Oke deehhh…
Diantar seorang sahabat, saya berkeliling kampus UMY di ring road barat. Agak lama juga mencari ruang tempat lomba yang dimaksud. Namun akhirnya ketemu juga.
Ada banyak mahasiswa mengenakan jas almamater. Duuhhh… brondong semua nih. Saya menghampiri mahasiswi berjilbab pink yang duduk manis di belakang meja bertulis panitia.
“Mbak, mau ikutan lomba menulis dimana ya?”
“Oh, bisa sama saya, Mbak… Mau berapa orang. Kelompok atau perorangan?”
“Emm… sendiri aja kok, Mbak. Perorangan”
“Ok. Bayarnya 10 ribu ya, Mbak… atas nama?”
“Nonik, Mbak… Oh, ya… lombanya gimana si sebenarnya, Mbak? Saya kok kurang jelas pengumumannya…”
“Nanti ada TM-nya kok… ntar Mbak masuk aja ke ruang itu ya… Ntar dijelasin pas TM itu. Ok?”
“Oh, gitu…”
Setelah saya mendapatkan kuitansi dari mahasiswi berjilbab pink itu, saya segera masuk ke ruang yang dimaksud. Untuk mengikuti Technical Meeting dari panitia.
“Jadi, nanti peserta mengambil lintingan undian ini dua kali, di dalam lintingan itu ada kata kunci yang harus peserta jadikan sebuah cerita, dalam bahasa Inggris. Setelah itu, dikumpulkan. Setelah jam istirahat, peserta harus mempresentasikan ceritanya di depan dewan juri. Ada pertanyaan?” jelas panitia panjang kali lebar.
APAAA??
PRESENTASI di depan Dewan Juri?! Ngga salah nih? Duuuhhh… saya kan lama banget ngga main presentasi-presentasian. Terakhir presentasi dulu semester 5. Itu pun majunya barengan sekompi! Kalo mesti sendiri begini, BISA ENCOK LUTUT SAYA, Maaasss! Hadduuuuhhh…
Tapi, yang namanya takdir harus dihadapi kan, temans?
Saya akan berjuang! YESS! *semangat kayak anggota multi level marketing.
Saya mengambil jatah undian. Dua kali. Di dalam lintingan pertama muncul kata ‘Jepang’ dan lintingan kedua ‘1970’.
Jepang dan 1970.
Alamaakkk… cerita apa yang bisa muncul hanya dengan dua kata itu coba? Pake bahasa Inggris pula! Saya berasa salah ikut lomba nih….
Saat itu, peserta Writing hanya 3 orang. Setelah kenalan sebentar, ternyata dua peserta adalah mahasiswa semester 3 dan 5. Keduanya anak Sastra Inggris pula! Satu dari kampus yang sama dengan saya, satunya anak kampus UMY. Edddiiiaaannn… saya harus bertarung melawan 2 jagoan Bahasa Inggris! Saya bisa MENCELAT nih kayak adegan siluman Kambing ditabok toya sakti-nya Sun Go Kong. Towwbbbiiaaatt… semangat saya surut lagi. Hiks.
Tapiii… lagi-lagi saya ingat, TAKDIR HARUS DIHADAPI KAN, TEMANS?
Lagipula, saya sudah bayar 10 ribu. Pantang pulang sebelum padam, eh… sebelum menang! Lha mbayar jeeee…!!
Jepang dan 1970. saya berpkir keras, ceritanya apa ya kira-kira? Tiba-tiba, wangsit Sadako muncul di otak saya. Ya! Saya akan menulis tentang Sadako! Saat itu, film Sadako- The Ring lagi ngetrend, temans. Kalo belum nonton pelem entu, bisa dicap kuper dah! Untuunnggg… saya udah nonton. Jadi ngga dicap kuper. Xixixi… Dan yang paling penting, dari pelem entu saya bisa terinspirasi di saat-saat mepet kayak begini. Lalu, cerita untuk lomba ini saya beri judul: SADAKO AND THE PAIL! Waww… busyet keren banget kan! Haha…
Kayak maling dikejar anjing, saya ngaciiirrrr aja bikin cerita Sadako and The Pail ini. Bermodalkan kamus tua Bahasa Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris milik Wojowasito, saya berhasil membuat cerita sepanjang dua halaman folio. Hedeeuuuhhh… lumayan.
Mata indah ini saya biarkan lirik sana lirik sini, dan dua peserta lain udah pada dua halaman lebih tuh! Ah, biarin aja, mereka kan anak Sastra, wajaarrr… Lha saya, anak Ekonomi je, MANTAN lagi! Yo lebih dari wajar kalo ngga lebih dari dua halaman. *membela diri.
Yup, siap dikumpul!
Saatnya istirahat. Saya bersyukur memiliki sahabat yang bersedia menemani saya mengikuti lomba kali ini. Jadi agak tenang berada di kandang orang lain, apalagi UMY. Gudangnya mahasiwa tajir. *Katanyaaaa sssiiiihhhhh…
Makasih, sahabatku… Walau saya tau motivasi terselubung kamu. Kamu pengen dapet jatah 30% dari hadiah kalo saya menang kan? Ra sopan to kuwi?! Huahahaha…
Tapi, its okelah… kami kan sahabat! Uyeeaaahhh…^^v
Setelah makan kenyang di kantin UMY, saya harus segera menuju ruang sidang untuk presentasi cerita. Inilah saat-saat menegangkan itu, temans…
Dalam ruang dingin ber-AC, dengan tatanan panggung yang spektakuler. *Lebay. Dan puluhan pasang mata menatap tajam kearah panggung, saya duduk menanti nama saya dipanggil maju. Ada tiga orang juri duduk berjajar di depan panggung. Ada ahli grammar, tutor bahasa Inggris, dan seorang dosen UMY. Lengkap sudah deritaku!
“Saudari Nonik T. Ningsih dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, judul cerita Sadako and The Pail! Silakan maju!”
Panitia memanggil nama saya. Giliran pertama pula! Saya sempat bengong sebentar, temans. Untung saya ditampar sahabat saya untuk segera maju. Kalo engga, saya anteng aja ngga mau ngaku itu nama saya. Abis, DENGKUL SAYA GGOOYYYAANNNGGG, temans!!
“Mbul, jenengmu kuwi lho! Cepetan maju!” kata sahabat saya sambil mendorong-dorong saya kayak orang ngga mau kenal saya ajah!
“Mbuuullll… ndredeeeggg kiiiii…. Ayyooo baalllliii waeee… Aku ora sangguuuppp… Suwweeerrr! Mripate akeehhh banggeeetttt!!”
Akhirnya, setelah dipanggil untuk yang kedua kali, saya terpaksa maju meladeni.
Takdir harus dihadapi kan, temans?
“Ehemm… uhuk, uhuk. Assalamu’alaykum. Good afternoon everybody. First of all, let me introduce myself. My name is Nonik, I came from Gadjah Mada University, Economic Faculty, Majoring in Monitoring and Development. Okay, I will tell you about my story. The title is Sadako and the Pail. Do you know PAIL, guys?”
Saya berhenti sesaat, menanti jawaban audiens di depan mata saya. Kok pada diem ya? Ini pada budeg apa ya? Saya kan nanya kalian, penontoooonnn!!
“All right, I think you don’t know. Mmm… the PAIL is EMBER in Bahasa Indonesia. You know EMBER right? We use it to carry water. Yes, water. My story will tell us about Sadako and her pail. Once upon a time, Sadako is a young lady named Hanna. Hanna in Bahasa Indonesia means flowers. And Hanna has a sumur…” *Duh, sumur bahasa Inggrise opo to yak??!
Raut wajah penonton di depan saya terlihat makin ruwet Hanya sahabat saya yang terlihat ngikik-ngikik tak jelas. Ada juga beberapa yang mesem-mesem, entah paham dengan cerita saya atau malah bingung ngga jelas juga tuh.
“One day, Hanna goes to her sumur to get some water. Using her pail she took it alone. Then suddenly, a bad man come ‘merebut’ her pail. He push Hanna into fall to her ‘sumur’. Then he took her pail and her water. Hanna died in her own ‘sumur’. A week later, Hanna become a ghost named SADAKO and the Pail. Why she called with that name? Because every haunts the people, Hanna always said, ‘WHERE IS MY PAIL? WHERE IS MY PAIL?’. And Sadako, it’s a legendary ghost name in Japan. That’s it. Thanks for listening my story. Wassalamu’alaykum…”
Tepuk dan sorak sorai penggemar, eh penonton mengisi ruang sidang. Saya turun dengan senyum penuh kemenangan, temans! Bukan menang karena hadiah… orang lombanya kelar aja belum. Melainkan MENANG MELAWAN KETAKUTAN SAYA SENDIRI! Itu yang lebih penting! Ngga apa-apa malu sebentar, tapi tetaplah kuasai keadaan! Rasanya, PLOOOONNNNGGGG!!
Saya pun duduk kembali di kursi saya dengan sisa-sisa dengkul yang masih goyang. Tapi saya puas. saya telah mengalahkan ketakutan itu. Grafik NYALI saya meningkat seratus persen! Saya tak peduli dewan juri atau mahasiswa-mahasiswi yang ada di ruang sidang mengerti atau tidak sama sekali dengan cerita saya. Itu tak lagi penting sekarang. Hahaha…
“Mbul, you’re rocckk!” kata sahabat saya.
“Ya iyalah, Sun Go Kong! Eh, Noniiiikkk…!” *nyengir bangga.
Usai presentasi peserta ke tiga, kami pun pulang dengan perasaan riang. Menunggu seminggu lagi hasilnya diumumkan di acara Nonton Bola Bareng di Monumen Serangan Satoe Maret.
Oke, temans! Semoga cerita ini menjadi inspirasi kita untuk tetap semangat maju ke depan! Melawan ketakutan dan menguasai panggung keadaan! Uuyyyeeaahhh…^^v
TAK PEDULI PULUHAN MATA MENATAP SAYA TAJAM. DARI ATAS PANGGUNG, DENGAN LANTANG SAYA TERIAKKAN,
“INI JUDUL SAYA, SADAKO AND THE PAIL!”
*Lupa saya aplot kapan di note fesbuk.